Terdepan Di Posisi Calon Kapolri, Kans Komjen Pol Listyo Sigit Coba Dipreteli

Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Jakarta – Persaingan menuju kursi Tribrata Satu (TB 1) makin panas. Mendekati Desember 2020, kans Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo yang nilai terdepan dan sangat dijagokan menduduki kursi TB diduga mulai coba dipreteli.

Dugaan ini terlihat jelas dari disebutnya nama Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo oleh mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol Napoleon Bonaparte.

Napoleon menyeret nama Listyo dalam persidangan yang digelar Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (24/11) lalu.

Dalam sidang itu, Napoleon bersaksi atas perkara dugaan suap terkait pengurusan penghapusan nama Djoko Tjandra dari daftar red notice Polri.

Selain bersaksi untuk terdakwa Tommy Sumardi, Napoleon juga menjadi terdakwa dalam kasus yang sama.

Pun begitu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan menilai penyebutan nama Listyo tidak masuk akal.

“Saya kira pengakuan itu menyesatkan dan sangat diragukan,” kata Edi, Jumat (27/11).

Dia juga tak percaya pernyataan Napoleon yang menyebut Tommy mendapat restu dari Listyo.

“Tommy sendiri tidak pernah mengaku mendapatkan restu,” kata Edi.

Menurut Edi, pernyataan Napoleon sarat muatan pesanan politis. Sebab, Listyo yang disebut-sebut sebagai anggota Geng Solo adalah salah satu calon terkuat Kapolri.

“Kami melihat isu Djoko Tjandra sengaja digoreng untuk menurunkan elektabilitas,” ucapnya.

Dikatakan Edi, sampai saat ini komitmen Listyo Sigit sangat jelas dan tegas dalam kasus Djoko Tjandra.

“Kabareskrim berani memproses oknum perwira tinggi polri yang masih aktif. Kami melihat ini sungguh suatu nyali yang besar,” kata Edi memuji.

Senada dengan Edi, Ketua LSM FORSI, Berman Nainggolan juga menyatakan saat ini ada banyak intrik politik dilakukan untuk menjegal Geng Solo menjadi Kapolri.

Terlebih, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kabareskrim juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan ulama.

“Mudah terbaca segala intrik politik yang dilakukan untuk menjegal Geng Solo menjadi Kapolri. Mulai dari intrik di pengadilan, penciptaan isu yang diblow up media massa, hingga cara penggiringan isu melalui institusi LSM yang berkutat di lembaga Polri,” kata Berman, Sabtu, (28/11).

“Kapolri adalah hak prerogatif Presiden untuk memilih. Nah, dalam prosesnya ada banyak upaya dilakukan, baik dari dalam maupun luar untuk memengaruhi keputusan Presiden memilih calon Kapolri.”

“Tapi percayalah, semua intrik itu sudah terbaca dan tak kan bisa memengaruhi keputusan Presiden untuk memilih Kapolri.”

“Apapun situasi dan isu yang berkembang, percayalah Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo tetap jadi calon Kapolri terdepan pengganti Jenderal Pol Idham Azis,” sambungnya lagi sembari juga mengingatkan bahwa Komisi III DPR RI sudah menyatakan secara terbuka tak mempersoalkan Kapolri dari kalangan non muslim. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *