Catat! Ini Sejumlah Alasan Logis Masker Scuba dan Buff Tak Efektif Cegah Penyebaran Virus Covid-19

Jakarta – Masker scuba dan buff itu keren saat dipakai. Modis dan fashionable. Makanya menjadi pilihan banyak orang tatkala diberlakukan protokol kesehatan memakai masker untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Pun begitu, sejak September lalu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sudah melarang dan tak merekomendasikan penggunaannya di masa pandemi Covid-19. Kemenkes meminta masyarakat memakai masker yang baik dan berbahan benar, termasuk perihal masker kain. Kain yang digunakan juga tidak boleh sembarangan.

“Saya sering mengatakan masker itu ada tiga. Pertama masker N95, ini memang sudah standar yang tinggi karena dipakai petugas-petugas kesehatan yang langsung berhadapan dengan virus di laboratorium. Kemudian masker bedah yang biasa dipakai tenaga medis, dan ketiga masker kain,” terang Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Achmad Yurianto, dalam keterangan tertulis yang diterima awak media, Selasa, (22/9) silam.

“Masker kain yang banyak dipakai masyarakat dengan kain tipis seperti masker scuba dan buff tidak boleh lagi,” sambungnya.

Menurutnya, kain yang digunakan sebagai masker haruslah memiliki setidaknya dua lapisan. Karena itu, penggunaan masker scuba dan buff tidak direkomendasikan.

Selain Kemenkes, efektivitas masker scuba dan buff mencegah penyebaran virus Covid-19 juga diragukan banyak ahli. Salah satunya karena masker scuba dan buff tak efektif menahan droplet. Padahal masker itu justru menjadi alat penting dalam pencegahan penularan virus Covid-19.

Maraknya perbincangan tentang masker scuba dan buff ini juga disertai dengan sejumlah alasan logis, khususnya dari para pihak yang menentang penggunaannya di masa pandemi Covid-19. Sejumlah penelitian dari para ahli juga turut menguatkan alasan pelarangan tersebut.

Alasan logis pertama yang menguatkan larangan penggunaan masker scuba dan buff di masa pandemi Covid-19 adalah karena hanya terdiri dari satu lapiran saja.

Seperti  kita ketahui bersama, baik masker scuba ataupun buff memang cuma punya satu lapisan saja. Sudah cuma satu lapis, kainnya juga sangat tipis. Sehingga dinilai tidak bisa membantu mencegah penularan dari virus Covid-19. Padahal menurut para ahli, masker yang baik digunakan terdiri dari tiga lapis.

Alasan logis berikutnya lagi adalah bahan kain masker scuba dan buff yang mudah melar. Ketika para pengguna memakai masker maka akan terjadi peregangan bahan, sehingga kerapatan porinya menjadi besar. Permebilitas udara juga menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, peluang partikular virus menembus kain masker bisa bertambah besar.

Ironisnya lagi, saat ini masih banyak ditemukan penggunaan masker scuba yang menarik maskernya sampai ke dagu. Ini tentunya akan membuat masker menjadi lebih mudah melar dan akan longgar ketika kembali digunakan. Akibatnya, masker bisa tidak menutup hidung dengan lebih rapat lagi.

Alasan logis selanjutnya, seperti sudah ditulis ke atas adalah masker scuba dan buff tidak bisa mencegah droplet yang keluar. Menurut penelitian Duke University, California Utara, buff tidak efektif untuk mencegah droplet. Droplet sendiri merupakan tetesan pernapasan yang keluar dari mulut dan menjadi salah satu media penularan virus Covid-19.

Jadi ketika seseorang berbicara dan dropletnya keluar, maka risiko penularannya semakin tinggi. Hal ini menjadi dasar mencuatnya bahaya masker scuba dan buff di tengah masyarakat.

Bahkan, dalam penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa pemakai buff memiliki risiko lebih tinggi daripada seseorang yang tidak memakai masker sama sekali. Kenapa? Karena buff bisa membuat droplet menjadi semakin berkembang biak melalui udara. Bahan untuk pembuatan buff pun bisa memecah droplet menjadi ukuran yang lebih kecil lagi.

Selanjutnya adalah karena alasan masker scuba dan buff berbahan elastis dan porinya besar. Berbagai penelitian menyebutkan bahaya masker scuba dan buff karena alasan bahannya. Bahan dari masker scuba dan buff sangat elastis.

Bahkan Buff sendiri dianggap bukan sebuah masker. Pasalnya, buff memiliki jaringan pori yang jauh lebih besar. Selain itu, keduanya tidak memiliki ruang bagi bibir ketika ia akan berbicara.

Hal ini tentu akan membuat penggunanya merasa tidak nyaman. Jika seseorang memakai masker ini kemudian berbicara, maka mereka akan sibuk dengan memperbaiki letak dari masker tersebut yang terus turun.

Alasan logis terakhir dari tidak direkomendasikannya masker scuba dan buff adalah karena kemampuan filtrasinya yang rendah. Alasan ini sangat berdasar karena kedua masker tersebut hanya efektif mencegah penularan virus Covid-19 sebesar 5 persen saja. Selain karena hanya satu lapis bahan, buff justru lebih berfungsi untuk melindungi leher ketimbang mencegah penularan virus Covid-19.

Namun jika tetap masih ingin menggunakan masker scuba atau buff, sebaiknya lapisi masker dengan tisu yang sudah dilipat menjadi tiga bagian. Atau jika tidak itu, kenakanlah masker kain secara berlapis untuk menghindari penularan virus Covid-19. bem

 

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *