Sidang Mark Up Tanah Cisarua, Junaidi Ubah Data AJB Atas Perintah Terdakwa Fikri Salim

Jakarta – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat kembali menggelar sidang perkara memasukan data dalam akta otentik, pemalsuan surat dan pengelapan dalam jabatan serta penipuan dengan terdakwa Fikri Salimalias Kiki, Senin (21/9).

Sidang kali ini mengagendakan pemeriksaan saksi. Saksi yang dihadirkan adalah Junaidi, yang juga terdakwa dalam kasus yang sana, namun disidangkan terpisah.

Dalam sidang dipimpin oleh Hakim Tuty Haryati, SH, MH dengan Hakim Anggota Yusuf Pranowo, SH,MH dan Bambang Nurcahyono SH, M.Hum, saksi Junaidi dicecar jaksa dengan pertanyaan langsung menusuk pada pokok permasalahan, yakni soal pengetikan ulang akta pengikatan untuk jual beli (AJB).

“Apakah saudara saksi mengetik semua akta pengikatanj jual beli tersebut?” tanya jaksa, yang diakui oleh saksi bahwa benar dia yang menyalin pengikatan jual beli tersebut dari awal, atas perintah terdakwa Fiktri Salim.

Pengikatan jual beli yang diketik tersebut adalah yang masih kosong kemudian memasukan data termasuk mengubah harga tanah menjadi Rp2 juta per meter dari dokumen yang asli yang hanya Rp1,1 meter persegi.

Kemudian, aku saksi, dokumen yang telah diubah tersebut diserahkan kepada Fikri Salim dan diserahkan kepada bagian Administrasi Keuangan, Syamsudin. Sedangkan dokumen yang asli juga diserahkan oleh Junaidi kepada Fikri setelah dimasukan ke dalam map.

Setelah itu, kata saksi ada pembayaran sebanyak tiga kali.

“Yang pertama bayar berapa?” tanya jaksa, yang dijawab oleh saksi bahwa pembayaran pertama sebesar Rp500 juta melalui cek yang ditanda tangan Prof Lucky ditujukan kepda penjual Leonova Marlius. Tetapi cek ini dicairkan oleh Junaidi di BNI Warung Buncit,kemudian ditransfer

Junaidi mengatakan, dari pembayaran pertama tersebut, pada tanggal 14 September 2018, setor tunai ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama Cut Safira Zulva, sebesar Rp292.000.000.

Sisanya ditransfer ke rekening Jakarta Medika dan sebuah rekening lainnya, yang merupakan rekening yang dibuka oleh Junaidi sekitar bulan Mei 2018.

Kemudian pembayaran kedua pada 11 Desember 2018 melalui cek senilai Rp440.000.000. Prosesnya sama seperti pencairan pertama. Cek ini dicairkan kemudian ditransfer ke rekening BNI Nomor: 43487062 atas nama Cut Safira Zulva, sebesar Rp100.000.0003. Sisanya ditranfer ke rekenening Asmunir Rp290.000.000, rekening Dina Edwar Rp100.000.000 dan ke rekening yang dibuka oleh jUnaidi.

Pembayaran ke tiga Rp500 juta, tanggal 11 Januari 2019, setor tunai ke rekening BNI Nomor: 43487062 atas nama Cut Safira Zulva, sebesar Rp417.000.000.

Penasehat hukum terdakwa M Firdaus mengatakan, terdakwa akan membuat keberatan dalam sidang yang dijadwalkan minggu depan.

Seperti diketahui, Fiksi Salim alias Kiki, dengan nomor perkara 760/Pid.B/2020/Pn.Jkt.Pst, dituduh melanggarkesatu primair Pasal 263 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP subs Pasal 263 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau kedua 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau ketiga Pasal 372 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus ini atas laporan Prof. Dr Lucky Aziza, pemilik PT Jakarta Media, yang melaporkan keduanya melakukan mark up harga tanah serta memasukan data dalam akta otentik, pemalsuan surat dan pengelapan dalam jabatan serta penipuan.

Laporan Polisi Nomor: 7846/XII/2019/PMJ/Dit Reskrimum, Tanggal 03 Desember 2019 inilah yang menyeret keduanya ke kursi pesakitan PN Jakarta Pusat.

Ceritanya, pada tahun 2018 Prof Dr Lucky hendak membeli tanah, diperkirakan dalam rangka eksvansi perluasan jaringan rumah sakitnya di daerah Cisarua, Bogor. Kebetulan, di daerah tersebut ada yang hendak menjual tanah, yakni Leonova Marlius,yang hendak menjual tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut sepakat Rp1.100.000 per meter sehingga harga keseluruhan sebesar Rp792.000.000.

Penawaran dilakukan oleh Fikri Salim dan dinotariskan oleh Arfiana Purbohadi, S.H. Nah, pengikatan jual beli tanah yang sudah ditandatangi pihak tapi belum ada nomornya tersebut, diubah oleh Junaidi atas perintah Fikri Salim. Data baru diketik oleh Junaidi.

Perubahannya, tanah yang tadinya seharga Rp1,1 meter persegi diubah menjadi Rp2 juta. Junaidi sendiri yang mengetik data tersebut. Harga totalnya menjadi Rp1.440.000.000.

Hal ini juga diakui oleh notaris Arfiana, dan stafnya Heryanto, yang mengaku tak mengetahui pengikatan yang harga tanahnya tersebut Rp2 juta.

“Saya tak mengetahui pengikatan yang itu,” tegas Arfiana kepada Majalah Deteksi.

“Saya juga tidak tahu. Saya hanya mengetik yang harganya Rp1,1 juta,” tegas Heriyanto, menimpati.

Pengikatan jual beli yang Rp2 juta itulah, yang kemudian diserahkan kepada bagian Adminsterasi Keuangan Syamsudin, yang kemudian mencairkannya melalui tiga check Bank BNI atas nama Lucky Aziza.

Check yang dikeluarkan Prof Lucky adalah Cek BNI yang tandatanganinya di Jl. Sutan Syahrir No. 6 Rt. 010/02 Kel. Gondangdia Kec. Menteng Jakarta Pusat, dengan masing-masing cek ditulis nama penjual Leonova Marlius.

Rinciannya, cek BNI Nomor CE 424659 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp500.000.000,. Kemudian, Cek BNI Nomor CG 110122 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp440.000.000, serta Cek BNI Nomor CG 313738 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp500.000.000,-.

Kasus ini terungkap setelah setelah Prof. Lucky melunasi pembayaran, lalu tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua atas nama Lionova Marlius tersebut, kemudian dibuatkan Akta Jual Beli No. 444/2018 tanggal 11 Desember 2018 yang dibuat berhadapan dengan PPAT Arfina Purbohadi, S.H. Tetapi sampai dengan saat ini, Prof. Lucky (PT. Jakarta Medika) belum menerima sertipikat atas nama Prof. Lucky dan Salinan Akta Jual Belinya, walaupun sudah lunas sejak Maret 2019.

Junaidi sendiri mengaku tidak pernah melihat sertipikat asli. red

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *