Waspada, Pemerasan Bermodus Video Call Sex Berpotensi Marak Lagi

Ilustrasi.

Jakarta – Pemerasan dengan modus ancaman menyebarkan rekaman pornografi yang dilakukan korban berpotensi kembali marak.

Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan bisa lebih waspada dan tak mudah terpancing dengan segala trik muslihat yang dilancarkan pelaku.

Rino, salah seorang paman korban yang mengalami pemerasan kasus ini mengatakan, dalam melancarkan aksinya pelaku biasanya mencari
dulu kontak calon korban, baik itu nomor Whatsapp, akun media sosial seperti Instagram dan lainnya.

Setelah itu, pelaku kemudian berusaha mengajak kenalan. Setelah bisa akrab, para pelaku ini akan menggiring korban yang berlawanan jenis untuk melakukan video call.

“Para pelaku umumnya membuat sejumlah akun Facebook palsu dengan foto perempuan yang diambil dari media sosial. Akun ini digunakan untuk menjalin pertemanan dengan korban, sebelum kejahatan mereka lakukan,” kata Rino, Rabu, (16/9).

Setelah itu, lanjut Rino menjelaskan, aksi dimulai dengan menghubungi korban via Facebook video call, messenger atau Whatsapp Video Call.

Kepada korbannya, pelaku menawarkan layanan video call sex (VCS) dengan pembayaran transfer uang atau pulsa. Setelah terjadi kesepakatan, pelaku akan menampilkan video adegan seksual atau ketelanjangan.

Kebanyakan korban, kerap hanyut dengan melakukan aktivitas seksual atau menunjukkan ketelanjangannya saat melakukan vcs.

Saat itulah pelaku merekam adegan korban untuk memerasnya.

“Pelaku akan mengancam dan memaksa korban agar mengirimkan sejumlah uang. Bila permintaan tidak dipenuhi, pelaku mengancam akan mengedarkan file tersebut kepada teman-teman korban di media sosial,” Rino menjelaskan.

Sebagai informasi tambahan, modus pemerasan dengan layanan VCS banyak memakan korban sejak Februari 2018 silam. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *