JPU Diduga Terpapar Covid-19, Sidang Mark Up Harga Tanah di PN Jakpus Ditunda

Sidang mark up harga tanah di Cisarua yang digelar di PN Jakarta Pusat.

Jakarta – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, menunda sidang perkara penipuan markup harga tanah di Cisarua dengan terdakwa Junaidi hingga satu pekan ke depan.

Sidang dengan nomor perkara 759/Pid.B/2020/PN.Jkt.Pst ditunda karena ketidakhadiran jaksa penuntut umum (JPU) Guntur Adi N yang diduga terpapar Covid-19.

Padahal sidang sudah menggagendakan acara pembacaan tuntutan JPU terkait dugaan markup harga tanah dan pemalsuan data dalam akta otentik, pemalsuan surat dan penggelapan jabatan serta penipuan.

Kantor Kejari Jakarta Pusat pada Senin, (14/9), memang tengah melakukan rapid test untuk memastikan kesehatan seluruh jaksa aman dari virus Covid-19.

Terdakwa Junaidi sendiri dalam persidangan menghadapi tuntutan pelanggaran primer melanggar Pasal 263 Ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Subs. Pasal 263 Ayat (2) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP atau Kedua 378 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP atau ketiga Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Terdakwa Junaidi ditangkap aparat Polres Jakarta Pusat berdasarkan Laporan Polisi Nomor: 7846/XII/2019/PMJ/Dit Reskrimum, tanggal 3 Desember 2019.

Laporan dibuat oleh pemilik PT Jakarta Medika, Prof Dr Lucky Aziza, yang merasa dibohongi atas harga tanah yang dibelinya di Cisarua.

Dalam sidang sebelumnya, terdakwa Junaidi sudah mengakui mengetik ulang akta pengikatan untuk jual beli yang dibuat oleh Notaris Arfiana PurbohadI, S.H.

Akta yang belum ada nomornya itu sudah ditandatangani oleh para pihak penjual dan saksi-saksi.

Harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut disepakati Rp1.100.000 per meter persegi sehingga harga keseluruhan yang mesti dibayarkan oleh Prof Dr Lucky Aziza sebesar Rp792.000.000.

Namun oleh terdakwa Junaidi, draft PUJB tersebut kemudian diganti atau diketik ulang atas perintah Fikri Salim menjadi Rp2.000.000 per meter sehingga beban biaya yang harus dibayar Prof Dr Lucky Aziza
bengkak dua kali lipat menjadi Rp1.440.000.000.

Harga inilah yang dibayar Prof Dr Lucky melalui tiga cek. Oleh terdakwa Junaidi, ketiga cek tersebut dicairkan atas perintah Fikri Salim tanpa sepengetahuan Prof Dr Lucky.

Setelah dicairkan, dana ditransfer sebagian ke penjual dan sebagian lagi ke atas nama anak penjual.

Dana penjualan yang seharusnya diterima sebesar Rp792.000.000 ternyata kelebihan Rp17.000.000 saat tiga kali ditransfer sehingga menjadi Rp809.000.000. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *