Kasus Prasetijo Tak Bisa Halangi Takdir Karir Komjen Pol Listyo Sigit Menuju Puncak

Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Jakarta – Meski ‘badai’ kasus Djoko Tjandra tengah menerpa Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri saat ini, integritas dan kapabilitas Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo tetap terlihat kokoh tak tergoyahkan.

Sebagai Kabareskrim, karir dan nama baiknya sekilas memang terganggu akibat ulah anak buahnya, Brigjen Pol Prasetijo Utomo yang saat itu menjabat Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri.

Di posisi dan kedudukannya ketika itu, Prasetijo meneken surat jalan untuk buronan cessie Bank Bali, Djoko Tjandra ke Pontianak. Bahkan, Prasetijo juga diketahui ikut dalam rombongan perjalanan buronan yang kerap disebut ‘Joker’ itu.

Surat jalan yang ditandatangani Prasetijo ini pada akhirnya membuat gempar yang berujung pencopotan dirinya dari jabatan. Prasetijo juga terancam pasal pidana akibat perbuatannya.

Di birokrasi Bareskrim, Prasetijo adalah anak buah Listyo. Surat jalan yang ditandatanganinya telah terbukti tanpa sepengetahuan dan seizin Listyo sebagai pimpinan tertinggi di badan tersebut.

Di luar itu, Prasetijo juga teman seangkatan Listyo di Batalyon Bhara Daksa Akpol 1991.

Di sinilah kemudian integritas dan kapabilitas Listyo mendapat ujian berat. Sebagai pimpinan sekaligus polisi yang profesional, modern dan terpercaya (Promoter), Listyo mesti bergerak cepat menyelesaikan persoalan, baik secara eksternal maupun internal.

Dan pencopotan Prasetijo dari jabatan itulah yang jadi awal sikap tegas Listyo menyelesaikan persoalan ke dalam. Ke luar, Prasetijo juga akan diseret untuk menghadapi pasal pidana.

“Di kepolisian ada tiga jenis penanganan yaitu disiplin, kode etik, dan pidana. Terkait dengan seluruh rangkaian kasus ini, maka kita akan tindaklanjuti dengan proses pidana,” tegas Listyo Sigit usai memimpin upacara pencopotan jabatan Prasetijo di Mabes Polri, Kamis, (16/7) lalu.

BACA JUGA:

Mengenal lebih dekat tentang Listyo Sigit, karir jenderal polisi bintang tiga ini memang termasuk melejit kencang dalam empat tahun terakhir.

Menyungkil dari laman Wikipedia, Senin, (27/7), Listyo Sigit adalah perwira menengah pertama di Batalyon Bhara Daksa Akpol 1991 yang berhasil meraih bintang.

Pangkat bintang pertamanya dia raih saat menjabat Kepala Polda Banten pada Oktober 2016.

Karirnya di bidang reserse juga terbilang maknyus. Dua tahun lulus Akpol, Listyo langsung menjabat Kepala Unit II Satuan Reserse Kriminal di Polres Metro Tangerang.

Kemudian pada 1999 dirinya kembali dipercaya menjabat Kapolsek Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kala itu, dirinya sempat membantu tim Gegana Polda Metro Jaya untuk memburu Dani, pengebom Plaza Atrium Senen, di Perumnas Klender.

Perjalanan karirnya pun kian moncer saat dirinya berpangkat Komisaris. Dia ditunjuk sebagai Kepala Satuan Intel dan Keamanan Polres Jakbar pada 2005. Di sini Listyo mendapatkan banyak ilmu lobi dan mengaplikasikan ilmu intelijen.

Pada tahun 2010, Listyo menjabat sebagai Wakil Kapolres Kota Semarang. Saat itulah dia mulai berkenalan dengan para kiai, antara lain Ketua MUI dan Dewan Pengurus PBNU, Kiai Sahal Mahfudz.

Setahun berikutnya Listyo menerima kenaikan pangkat menjadi Komisaris Besar dan menjabat Kapolres Surakarta pada 2011. Di momen inilah dia mulai mengenal Joko Widodo, yang saat itu menjabat Wali Kota Solo.

Keakraban keduanya terus terjalin hingga bersama-sama mengembalikan citra Solo akibat peristiwa bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil pada 25 September 2011 silam.

Setelah Jokowi menjadi presiden pada tahun 2014, karir Listyo pun ikut terangkat. Dia dipilih menjadi ajudan Jokowi selama dua tahun, dan kemudian menjadi Kapolda Banten dengan pangkat Brigjen.

Saat menjadi Kapolda Banten, Listyo berhasil mendekatkan diri dengan para ulama berpengaruh di Provinsi Banten. Semisal Abu Muhtadi ulama asal Banten yang juga tokoh FPI.

Dia juga terus berusaha mendekatkan diri kepada para ulama dengan metode dialog dari pintu ke pintu. Strategi ini sangat efektif. Dengan membuka ruang dialog, lambat laun keberadaannya diterima oleh ulama.

Bahkan dirinya tak sungkan memberikan kontak personal kepada ulama untuk memastikan bahwa tak ada jarak antara tokoh agama, masyarakat, dan pejabat kepolisian.

Kedekatannya dengan tokoh ulama akhirnya membawa hasil. Listyo sukses mengajak para ulama ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Berbekal kedekatannya dengan Jokowi, Listyo mempertemukan ulama dengan Presiden pada bulan November 2016.

Dua tahun berselang, Listyo kembali menambah bintang di pundaknya dengan dilantik sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan.

Sekarang dia juga sukses meniti karirnya dengan  menduduki posisi Kabareskrim dengan pangkat bintang tiga di pundak.

Kini, tinggal satu langkah lagi perjuangan Listyo untuk menggenapkan bintang di pundaknya menjadi empat. Satu langkah perjuangan untuk menggapai puncak karirnya sebagai Kapolri ke-25.

Secara logika, kemungkinan dan peluang ini sudah ada dalam genggamannya. Meski pun juga bakal ada banyak intrik yang dihadapi dari para calon lainnya. Salah satu contohnya ya, seperti kasus Prasetijo di Bareskrim.

Bahan menarik buat para kompetitor menjauhkan posisi jual Listyo dari kursi TB-1. Bahkan sekarang juga sudah berembus isu Listyo bakal dicopot dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban pimpinan Prasetijo di Bareskrim.

Benarkah, itu? Isu boleh saja berembus kencang. Tapi percayalah, semua itu tak kan bisa menjegal takdir karir Listyo menuju puncak.

Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo diramalkan akan tetap mencapai puncak karirnya sebagai Kapolri. Bisa jadi Kapolri ke-25 di tahun 2021, atau bisa menjadi Kapolri ke-26 dua tahun berikutnya. Kita lihat saja, nanti. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *