Operasi Larangan Mudik, Ditlantas Polda Metro Jaring 202 Mobil

Semanggi – Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Polres Jajaran berhasil mengamankan 202 kendaraan bermotor berupa bus dan mobil travel gelap yang mencoba menyelundupkan pemudik dengan tujuan sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

202 kendaraan itu hasil Operasi Ketupat Jaya 2020 dan termasuk operasi khusus larangan mudik selama tiga hari yakni sejak Jumat (8/5/2020) sampai Minggu (11/5/2020).

Bacaan Lainnya

banner 300250

Dari seluruh kendaraan itu, tercatat ada sebanyak 1.113 penumpang yang berhasil dicegah untuk mudik, untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo menjelaskan, dari 202 kendaraan bermotor yang diamankan pihaknya dalam operasi khusus selama tiga hari itu, terdiri dari 11 unit bus dan sisanya adalah travel gelap berupa 112 minibus dan 79 mobil pribadi.

“Kami lakukan operasi khusus selama 3 hari ini dengan cara hunting sistem, dan akan terus berkelanjutan sampai dicabutnya larangan mudik oleh pemerintah,” ujar Sambodo di Mapolda Metro, Jakarta, Senin (11/5/2020).

Menurut dia, seluruh kendaraan yang mengangkut pemudik itu diamankan dari jalan tol, jalan arteri dan jalan tikus yang sudah dimapping pihaknya.

“Untuk para pengemudi akan dikenakan tilang sesuai Pasal 308 UU Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” kata Sambodo.

Sebab mereka mengangkut penumpang tanpa memiliki izin trayek. “Ancaman hukumannya denda hingga Rp 500 ribu atau pidana kurungan paling lama 2 bulan,” jelasnya.

Setelah didata dan ditilang kata Sambodo, pengemudi dan penumpang dipersilakan kembali. “Penumpang dikembalikan ke titik awal penjemputan. Untuk sopir juga kami minta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya,” ucapnya.

Menurut Sambodo, seluruh penumpang dipastikan tidak memiliki surat bebas Covid-19, sesuai aturan dan salah satu syarat atas kebijakan diperbolehkan melakukan perjalanan.

“Karenanya kami amankan pula 11 bus, yang semua penumpangnya tidak memiliki surat bebas Covid-19,” tuturnya.

Penindakan pelanggaran ini kata Sambodo menjawab keraguan masyarakat yang menilai petugasnya ada ‘main mata’ dengan pemudik.

Sambodo menjelaskan para pemilik kendaraan travel atau pengusaha angkutan gelap itu menawarkan jasanya lewat media sosial dan juga dari mulut ke mulut.

“Harga tiket yang ditawarkan cukup mahal atau diatas harga normal. Misalnya ke Brebes, penumpang diminta membayar Rp 500 ribu, padahal biasanya Rp 150 ribu. Atau ke Cirebon dikenakan tarif Rp 300 ribu, dimana harga normalnya Rp 100 Ribu,” pungkasnya. fry

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *