Pembobol BCA Senilai Rp 22 Miliar Asal Sumsel Dibekuk Subdit Jatanras Polda Metro

banner 468x60

Semanggi – Aparat Subdit IV Jatanras Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus pembobolan rekening bank dan kartu kredit. Sebanyak 12 orang dari 3 kelompok pelaku berhasil ditangkap.

Semua pelaku dibekuk dari kediaman dan asal mereka yakni di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, awal Maret 2020 ini.

Muat Lebih

banner 300250

Dari 12 pelaku yang diamankan satu pelaku yakni Yopi (24) terpaksa dilumpuhkan petuga dengan timah panas. Sebab Yopi melawan petugas dengan senjata api jenis revolvernya.

Adu tembak dengan petugas sempat terjadi hingga akhirnya Yopi tewas tertembak.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana menuturkan, total kerugian bank BCA yang dilakukan 3 kelompok mafia perbankan ini mencapai Rp 22 Miliar.

“Modusnya mereka menggunakan virtual account serta membobol kartu kredit nasabah BCA. Total kerugian pihak BCA mencapai Rp 22 Miliar. Mereka ini adalah mafia perbankan,” ujar Nana kepada wartawan, di Mapolda Metro, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Menurut Nana, dari 12 pelaku ini terbagi dalam 3 kelompok. “Semuanya berasal dari Kecamatan Tulung Selapan di Sumatera Selatan. Pengakuannya mereka sudah beraksi sejak 2015 lalu,” katanya didampingi Dirkrimum Kombes Pol Suyudi Ario Seto dan Kabid Humas Kombes Pol Yusri Yunus.

Kelompok pertama katanya terdiri dari tiga tersangka yakni Frandika (29), Geri (23) dan Helyem (33).

“Para pelaku ini memanfaatkan sistem BCA yang sedang maintenance atau upgrade, dengan cara melakukan transaksi top up ke virtual account menggunakan M-Banking,” jelasnya.

Dijelaskan Nana, saldo tersangka tidak berkurang. “Sehingga tersangka melakukan top up berkali-kali dengan virtual account yang disiapkan pelaku,” tuturnya.

Kelompok kedua, lanjut Nana, terdiri dari 8 tersangka dimana satu tersangka yakni Yopi tewas ditembak karena melawan petugas dengan senjata apinya.

Sementara 7 pelaku lainnya adalah Altarik (26), Remondo (25), Eldin Agus (23), Sultoni (22), Helmi (57), Suhendra (26) dan Deah Anggraini (22).

“Mereka melakukan transaksi belanja online dengan menggunakan kartu kredit korban. Untuk itu mereka mendapatkan OTP dengan cara mengaku sebagai petugas bank dan berdalih untuk membatalkan pembelian online yang tidak dilakukan para korban,” ucapnya.

Saat OTP diberikan ke pelaku, jelas Nana, maka pelaku dapat leluasa membobol kartu kredit korban. “Karena pelaku dapat masuk ke kartu kredit korban dengan OTP yang merupakan password rahasia,” ungkapnya.

Sementara kelompok ketiga adalah satu orang tersangka yang merupakan hasil pengembangan kasus pembobolan rekening wartawan senior Ilham Bintang. Dimana 8 pelaku yakni kelompok Desar telah berhasil dibekuk sebelumnya.

“Jadi satu orang yang DPO di kelompok Desar ini berhasil kita bekuk, Pegik (27) yang berperan membantu tersangka Desar mendapatkan data korban Ilham Bintang. Sehingga bisa membuat SIM Card baru dengan data Ilham Bintang,” katanya.

Para pelaku dijerat dengan sejumlah pasal berlapis, Pasal 362 KUHP tentang pencurian, Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang transfer dana, UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), UU Perbankan, dan UU ITE. Dengan ancaman hukumannya hingga 20 tahun penjara. fry

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *