Polisi Ungkap Pengembang Perumahan Syariah Raup Rp 40 Miliar dari 3.680 Korban

Semanggi – Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil mengungkapkan peran sindikat mafia perumahan berbasis syariah, yang berhasil meraup Rp40 Miliar dari 3.680 korban.

Para pelaku sudah diamankan Polisi pekan lalu adalah, MA alias Ari selaku Komisaris Utama dan istrinya S alias Ayu, SW alias Yanto selaku Direktur Utama dan CH alias Chepi selaku marketing atas nama PT Wepro Citra Sentosa.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono menjelaskan, para pelaku menawarkan ribuan unit rumah dan apartemen dengan berbasis syariah yang direncanakan dibangun di Maja, Tangerang dan di Buaran, Jakarta Timur.

“Mereka menawarkan unit rumah dengan harga murah berbasis syariah, dengan iming-iming bayar cicilan tanpa riba, tanpa bunga bank, tanpa checking bank, tanpa DP dan lain sebagainya layaknya perumahan syariah,” ujar Gatot kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Senin (16/12/2019).

Beberapa perumahan yang ditawarkan kata dia harganya cukup murah yakni hanya sekitar seratus jutaan.

Karenanya kata dia, banyak masyarakat yang ingin memiliki rumah, tertipu dengan iming-iming pengembang. Apalagi kata dia pengembang beberapa kali melakukan pameran.

“Untuk sementara ini korban dalam kasus ini sekitar 3.680 orang dengan total kerugian sekitar Rp 40 Miliar. Dari 3.680 korban, sebanyak 63 orang sudah kami periksa sebagai korban dan pelapor,” katanya didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus.

Menurut Gatot, penyidik masih mendalami kasus ini untuk melihat kemungkinan adanya tersangka lain.

“Dan juga kita dalami rekening tersangka penerima uang setoran dari para korban. Saat ini diketahui tersangka MA selaku Komisaris Utama menggunakan rekening istrinya S alias Ayu untuk menampung uang dari para korban,” jelasnya.

Gatot memastikan, sindikat mafia perumahan syariah ini tidak bekerjasama dengan organisasi Islam manapun seperti klaim pelaku dalam brosur penawaran mereka.

“Kami pastikan mereka ini hanya mencatut nama organisasi Islam, untuk membuat masyarakat tertarik,” ungkapnya.

Menurut Gatot, perumahan syariah tersebut sudah ditawarkan para pelaku sejak 2015.

“Pengembang menjanjikan paling lambat Desember 2018, semua unit rumah di perumahan di Maja, Tangerang, Banten, sudah diserahterimakan. Namun nyatanya semua bohong karena sampai kini perumahan belum jadi,” tuturnya.

Dari pengakuan tersangka kata dia uang yang disetorkan para korban sudah habis dipakai untuk membayar operasional seperti gaji karyawan, membebaskan lahan dan pameran.

“Namun akan kami dalami lagi kemana aliran dana para korban dari rekening mereka ini. Juga akan kita sita aset mereka yang tersisa,” pungkasnya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan Undang-Undang Perumahan serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). frynang

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *