Masyarakat Lumajang Tolak Radikalisme

banner 468x60

LUMAJANG – Pagi ini, Minggu (12/10/2019) ratusan masyarakat Lumajang turun ke jalan menolak paham radikalisme berkembang di Indonesia, khususnya di wilayah Kabupaten Lumajang.

Hal ini adalah buntut atas terjadinya upaya penyerangan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal (Purn) Wiranto, di Alun-alun Menes Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/10) lalu.

Muat Lebih

banner 300250

Pawai tolak Radikalisme masyarakat Lumajang tersebut memusatkan aksi mereka di sekitaran Alun-Alun Lumajang. Selain mengutuk keras penyerangan terhadap Wiranto, para pengunjuk rasa juga menyatakan wilayah Lumajang bersih dari teroris dan radikalisme yang berpaham JAD (Jamaah Ansharut Daulah) dan faham-faham lainnya.

Pada kesempatan tersebut Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mengatakan bahwa paham radikalisme sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Paham atau aliran radikal adalah paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik,” ujarnya.

Arsal menjelaskan, radikalisme ini ada berbagai macam bentuknya. Ada yang mengatasnamakan agama dan membetuk negara baru, ada pula yang memang terang-terangan ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, ataupun yang hanya ingin mengacaukan keamanan.

“Dari berbagai macam radikalisme tersebut sangat berbahaya bagi bangsa ini, saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tak mudah dipengaruhi oleh paham radikalisme dengan memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap pria yang menyelesaikan gelar S3 di Universitas Padjajaran Kota Bandung tahun 2010 tersebut.

Dienof Fery Santoso (pria, 49 th) selaku koordinator lapangan sekaligus juru bicara aksi menyatakan dirinya bersama seluruh masyarakat Lumajang berjanji akan memegang teguh Pancasila sebagai ideologi bangsa.

“Tak bisa dipungkiri, aksi radikalisme yang mengarah penyerangan terhadap Menkopolhukam beberapa hari yang lalu adalah tindakan radikalisme oleh seorang pengecut. Kita sudah memiliki Pancasila sebagai ideologi bangsa, tak perlu lagi adanya tindakan radikalisme semacam itu di NKRI. Kami sebagai warga Lumajang menolak keras tumbuhnya radikalisme di Indonesia,” tambahnya.

Kerawanan penyebaran paham radikal semakin tinggi bila dihadapkan dengan fakta bahwa saat ini banyak website yang berisikan konten-konten radikal.

Sejak 2010 hingga 2017 terhitung sudah 814.594 situs yang berisikan konten radikal diblokir oleh Kemenkominfo sampai saat ini.

Disisi lain penetrasi pengguna internet di Indonesia 132,7 juta dari total populasi 256,2 juta jiwa, namun dengan tingkat literasi atau kemampuan mengolah dan memahami informasi yang sangat rendah, sehingga dalam hal ini Indonesia merupakan negara dengan tingkat literasi yang rendah diantara negara-negara lainnya, yaitu menduduki peringkat ke-60. frynang

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *