Sidang Konflik Bertetangga, Pengacara Keberatan Replik Jaksa

banner 468x60

JAKARTA – Kuasa hukum Erlina Sukiman, Leo Famli, keberatan terhadap replik yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hary Royon, pada sidang kasus konflik bertetangga, yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (1/10/2019).

Replik yang disampaikan jaksa, Hari Royon, dinilai banyak bolongnya dan tidak berbobot, karena tidak memasukkan keterangan saksi ahli pidana dari Universitas Muhammadiyah, Chairul Huda, yang dihadirkan pada sidang sebelumnya. Salah satunya, soal definisi dan pengertian Pasal 170 terkait pengeroyokan.

Muat Lebih

banner 300250

“Banyak hal yang menurut kami kurang sesuai, sebagaimana yang kami ungkapkan dalam Pleidoi, ada beberapa poin disini tidak dimasukkan apa yang dikemukakan oleh saksi ahli yang kami hadirkan, tidak disebutkan,” ujar Leo Famly, usai sidang, Selasa (1/10/2019).

Dalam repliknya, Hary Royon membacakan keterangan yang disampaikan saksi Roby Dharmawan terkait insiden pengeroyokan yang menimpa Yenny Susanti di pekarangan rumah Erlina Sukiman pada 13 April 2018.

“Roby datang ke tempat kejadian masih dalam keadaan bertengkar, keterangan saksi Roby merupakan alat bukti petunjuk,” urai Hary.

Jaksa tetap pada sikapnya, menjatuhkan tuntutan kepada Erlina Sukiman sebagai terdakwa I dan Nurhayati sebagai terdakwa II masing-masing dua bulan penjara.

Atas replik itu, Leo menyatakan akan menjawabnya pada sidang duplik yang akan digelar pada sidang berikutnya.

“Selebihnya itu adalah haknya dia (Jaksa) untuk membela diri. Sebaliknya kita juga akan tanggapi dengan duplik yang kami buat untuk menanggapi replik yang tadi dibacakan oleh JPU. Duplik itu akan kami sampaikan di sidang berikutnya,” tambah Leo.

Sidang kasus ini cukup menarik perhatian pengunjung, karena yang berkasus adalah dua keluarga bertetangga, bersebelahan rumah. Keduanya saling lapor polisi hingga kasusnya berakhir di meja hijau.

Peristiwanya terjadi di halaman rumah Erlina Sukiman pada Jumat, 13 April 2018 lalu. Saat itu Yenny melabrak rumah Erlina yang berada di sebelah rumahnya.

Yenny meminta agar anak Erlina, yakni Carolyn, menghentikan suara pianonya dari dalam rumah, karena dianggap bising dan mengganggu. Padahal, saat itu Carolyn sedang mengajar les piano ke muridnya.

Karena emosi dan sempat adu mulut, diduga Yenny akhirnya menampar wajah Erlina. Saat itu Nurhayati, ibu Erlina, melerai keduanya.

Karena penamparan itu, Erlina melaporkan Yenny ke polisi atas dugaan penganiayaan. Yenny kemudian ditetapkan tersangka, meski tak ditahan.

Namun, Yenny juga melaporkan balik Erlina dan Nurhayati atas kejadian itu ke Polda Metro Jaya. Yenny melaporkan keduanya atas dugaan pengeroyokan hingga kemudian, kasusnya sama-sama disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. frynang

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *