Kapolda Metro: Waspada! Penyebaran Radikalisme Sasar Mahasiwa Baru

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono.
banner 468x60

Jakarta – Kapolda Metro Jaya Irjen, Pol Gatot Eddy Pramono menekankan perlunya kewaspadaan tingkat tinggi untuk mengikis potensi bahaya penyebaran paham radikalisme ke masyarakat, khususnya yang menyasar para mahasiswa baru di berbagai universitas.

Para mahasiswa baru adalah anak-anak yang baru lulus sekolah dan tengah mencari jati diri. Psikis seperti ini membuat mereka jadi obyek yang mudah untuk dipengaruhi oleh siapa pun.

“Mereka baru lulus dan sedang mencari jati diri. Jadi mudah untuk dipengaruhi oleh siapa pun,” katanya saat memberikan kuliah umum di Universitas Trisakti (Usakti), Jakarta Barat, Minggu (18/8).

Dilanjutkannya, tantangan paling besar bangsa Indonesia ke depan adalah masalah intoleransi, radikalisme dan terorisme yang dikaitkan dengan media sosial.

Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai generasi muda punya peran sangat besar untuk merawat dan melindungi keberagaman dari seluruh tantangan tersebut.

Jika masyarakat, khususnya mahasiswa tidak bisa mengelola media sosial dengan baik, maka bisa dipastikan paham-paham seperti itu akan lebih muda masuk untuk memengaruhi mental dan cara berpikir generasi muda.

“Keberagaman kita yang ada bisa terganggu. Karena itu saya mengimbau kepada semua mahasiswa untuk terus menyemaikan toleransi dan keberagaman. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,” kata jenderal polisi bintang dua jebolan Batalyon Admani Wedana Akpol 1988 A ini menegaskan.

BACA JUGA:

Menurut Gatot, cikal bakal hancurnya bangsa Indonesia bisa terlihat dari indikasi bilamana ada masyarakat yang mulai mengangkat perbedaan ke permukaan.

Sebaliknya, jika yang diangkat adalah kebersamaan maka bisa dipastikan bangsa Indonesia akan tetap berdiri kokoh meskipun esok hari kiamat.

“Besok bumi ini kiamat, H-1 bangsa Indonesia akan tetap ada. Itu yang kita sampaikan pada generasi muda karena mereka calon pemimpin bangsa ini,” ujar Gatot.

Dituturkannya juga, kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia, mulai dari suku, agama, budaya, bahasa dan sebagainya rentan dirusak oleh pihak yang tidak senang dengan Ibu Pertiwi.

Ancaman tersebut bisa berasal dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi eksternal, ancaman bisa saja datang dari negara-negara lain yang tidak senang kepada Indonesia. Sedangkan dari sisi internal ancaman muncul dari dalam negeri.

Demokrasi, lanjut Gatot, idealnya diterapkan di masyarakat yang didominasi oleh kelas menengah. Masyarakat di level ini lebih rasional, kritis, dan menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik.

Pun begitu, secara de facto sistem demokrasi di Indonesia ternyata masih didominasi masyarakat ‘low class’, baik dalam hal ekonomi maupun pendidikan.

Sistem demokrasi yang semestinya menjadi mandat untuk rakyat pada akhirnya malah dimanipulasi kelompok tertentu untuk kepentingan mereka.

“Ini jadi tantangan kita bersama untuk menyingkirkan hal seperti itu demi utuhnya keberagaman dan kebhinekaan bangsa Indonesia,” kata Gatot.

“Dan kita berharap mahasiswa bisa mengambil peran besar untuk menjaga keutuhan bangsa ini,” sambungnya. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *