FORSI Kutuk Aksi Kekerasan dan Intimidasi Aparat Kepolisian Terhadap Wartawan

Ketua Umum FORSI, Berman Nainggolan.
banner 468x60

Jakarta – Forum Komunikasi Rakyat untuk Transparansi (FORSI) mengutuk keras aksi kekerasan dan intimidasi aparat kepolisian terhadap wartawan yang tengah menjalankan.

Pasalnya, perilaku aparat kepolisian seperti itu sudah melecehkan aturan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dengan Polri Nomor 2/DP/MoU/II/2017.

“Sangat terkutuk perilaku dan sikap aparat kepolisian yang mengintimidasi dan melakukan kekerasan terhadap wartawan yang tengah bertugas. Polisi adalah aparat hukum yang mengerti hukum. Tapi praktiknya mereka seperti petugas hukum yang buta hukum,” tegas Ketua Umum FORSI, Berman Nainggolan di Jakarta, Sabtu (17/8).

Penegasan ini disampaikan Berman terkait kekerasan dan intimidasi aparat kepolisian kepada sejumlah jurnalis yang meliput demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat (16/8) lalu.

Sejumlah wartawan dan fotografer mendapatkan intimidasi dan ancaman dari aparat kepolisian berpakaian preman yang berjaga di sekitar lokasi. Bahkan beberapa di antaranya mengalami kekerasan saat dipaksa menghapus dokumentasi hasil liputan yang terekam, baik di kamera maupun di ponsel.

“Reporter Inews, Armalina dan dua kameramen sampai diteriaki aparat berbaju putih dengan kalimat ancaman, ‘jangan mentang-mentang kalian wartawan ya!!!” tukas Berman.

“Kemudian fotografer Bisnis Indonesia, Nurul Hidayat juga terpaksa menghapus foto hasil jepretannya karena diancam aparat berambut panjang yang berpakaian serba hitam dan dan ada tindikan di kuping,” sambung pria yang juga menjabat sebagai sekretaris Dewan Kehormatan PWI Provinsi DKI Jakarta.

Dikatakannya, merujuk dari Pasal 8 UU Pers, aparat kepolisian semestinya sadar bahwa wartawan mendapat perlindungan hukum ketika sedang menjalankan tugas jurnalistiknya.

Jika hal tersebut dilanggar, maka mengacu dari KUHP dan Pasal 18 UU Pers, si pelaku kekerasan terancam hukuman bui dua tahun atau denda Rp500 juta.

“Para aparat yang melakukan intimidasi dan kekerasan pada wartawan saat bertugas meliput demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR rata-rata berpakaian preman sehingga terlihat samar untuk disalahkan. Tapi lucunya, mereka juga mengeluarkan ancaman akan mengangkut para jurnalis dengan mobil polisi bersama para demonstran yang diamankan jika tak mengikuti perintah mereka,” jelas Berman.

“Untuk itu pernyataan sikap kami dari FORSI pun jelas dan tegas agar pimpinan Polri mengusut dan menangkap para pelaku kasus ini demi transparansi slogan profesional, modern, terpercaya atau Promoter yang digaungkan Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian untuk lebih mendekatkan Polri ke masyarakat.”

“Kalau peristiwa seperti ini terulang dan terulang lagi, itu artinya Promoter cuma slogan buat petinggi Polri. Bukan untuk aparat Polri yang bertugas di lapangan,” tegasnya menandaskan. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *