Kontribusi Industri Kelapa Sawit Signifikan Turunkan Angka Kemiskinan di Indonesia

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat menerima penghargaan sebagai tokoh yang berpengaruh terhadap pengembangan Kelapa Sawit Indonesia di Ayana Midplaza Jakarta, Rabu (27/3).
banner 468x60

Jakarta – Industri kelapa sawit (palm oil) di Indonesia punya kontribusi signifikan dalam hal menurunkan angka kemiskinan di Republik ini.

Sebanyak 10 juta penduduk berhasil keluar dari kemiskinan sebagai akibat tidak langsung dari industri kelapa sawit sejak tahun 2000. Dari jumlah itu, sebanyak 1,3 juta penduduk  berhasil keluar dari jurang kemiskinan akibat dampak langsung dari industri tersebut.

Demikian dinyatakan  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, saat menjadi pembicara Seminar Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Ayana Midplaza Jakarta, Rabu (27/3).

“Saat ini sekitar 19,5 juta penduduk  terkait langsung dan tidak langsung dengan industri sawit. Sebanyak 7,5 juta bekerja langsung di industri sawit dan sebanyak 12 juta lagi bekerja pada sektor terkait,” jelas Luhut pada seminar yang dipandu Topan Mahdi.

“Karena memberikan kehidupan bagi sekian banyak penduduk Indonesia, sudah barang tentu pemerintah terus mendorong industri sawit ke arah lebih maju karena menciptakan lapangan pekerjaan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi,” sambungnya seraya menambahkan untuk pengembangan kelapa sawit sekarang ini difokuskan pada program replanting dengan dana murah.

Pada kesempatan ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga menerima penghargaan sebagai tokoh yang berpengaruh terhadap pengembangan Kelapa Sawit Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono yang juga menjadi pembicara seminar menambahkan, saat ini pemerintah memang tengah melakukan recovery atau perbaikan serta penguatan untuk mendukung pengembangan industri sawit yang juga didukung dunia usaha.

“Sekarang saat yang baik dan masih on the spot. Semua akan terkoordinasi dengan baik dan inventarisir masalah dijalankan secara pararel,” ujarnya.

Pun begitu, masih kata Joko, GAPKI juga menilai program pemerintah yang sudah bagus untuk memajukan industri sawit itu sangat disayangkan belum terintegrasi.

“Kalau mau lebih baik lagi harus diintegrasikan semua programnya,” tegas Joko.

Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP), Dono Bustami turut mengatakan, peran sawit sekarang ini memang semakin terlihat dominan untuk Indonesia.

“Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) sawit memiliki peran penting. Untuk memenuhi SDGs, industri sawit Indonesia bisa memenuhi kriteria SDGs. 10-15 persen populasi Indonesia tergantung sawit,” kata Dono.

Namun, lanjutnya, secara khusus ia juga menyoroti lambannya peremajaan replanting dan rendahnya penyerapan  sawit di saat suplay begitu besar.

“Sektor hulu sawit harus dibenahi dan harus ada program yang dijalankan untuk memajukan industri ini dari regulator. Selain itu amanat undang-undang tentang sawit juga harus dijalankan,” ujarnya. bem

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *