Lakukan Tindak Pidana Murni, Ratna Sarumpaet Bakal Jalani Sidang

0
Ratna Sarumpaet.

Jakarta – Aktivis Ratna Sarumpaet dipastikan bakal menjalani persidangan atas kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan.

Pasalnya, perbuatannya menyebar berita hoaks ke ranah publik dinilai sudah memenuhi unsur pidana murni. Penilaian ini juga sekaligus menghapus dugaan ada kepentingan politik di balik motif perbuatannya.

Pendapat ini disampaikan pakar hukum pidana, Prof Romli Atmasasmita kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (2/2).

“Bagi saya sebagai ahli hukum, itu murni pidana bukan politik. Mulutnya kan salah karena bohong, fitnah,” tegas Romli.

BACA JUGA:

Dikatakannya, pelimpahan berkas kasus Ratna dari kepolisian ke kejaksaan sudah jadi sinyal kuat aparat punya cukup bukti permulaan untuk disidangkan.

“Sudah sampai P21 artinya sudah cukup bukti permulaan dan bisa diajukan ke persidangan,” kata Romli.

Bahkan menurutnya, dengan masuknya berkas Ratna ke kejaksaan, maka pihak kepolisian bisa lebih fokus bekerja untuk memburu tersangka selain Ratna.

“Kejaksaan sudah menyatakan berkas P21, lengkap. Artinya yang lain juga bisa jadi tersangka karena turut menyebarluaskan hoaks. Enggak (berhenti di Ratna). Ada banyak kalau polisi mau usut,” jabarnya.

Lebih lanjut Romli juga berharap aparat penegak hukum bisa mengusut tuntas kasus Ratna hingga ke akar-akarnya.

Sebab, sambungnya, Ratna tak mungkin berdiri sendiri dalam kasus ini. Terlebih sempat muncul tudingan polisi melakukan kekerasan saat mengusut kasus Ratna.

“Harus (diusut tuntas) karena tidak mungkin sendiri. Waktu dia ngomong di berita, kan itu banyak yang belain bahwa Ratna dipukuli. Bahkan, arahnya ke aparat, seolah-olah digebukin aparat pemerintah. Begitu kan, kesannya,” pungkas Romli.

BACA JUGA:

Seperti diketahui, kasus berita hoaks Ratna berawal dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh kemudian menyebut Ratna dipukuli orang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat.

Tapi Ratna tiba-tiba mengklarifikasi kabar tersebut. Dia mengaku kabar penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Lebam di mukanya karena operasi plastik, bukan karena dipukuli orang tak dikenal.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Ratna Sarumpaet disangkakan Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ancaman maksimal yang bisa diberikan adalah hukuman penjara selama 10 tahun. bem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here