Penggunaan Internet Yang Kian Marak Berbanding Lurus dengan Tindakan Kejahatan Cyber

Staf AhIi Menkominfo Bidang Teknologi Ir Herry Abdul AzIs M.Eng dan Rektor Unhan Letjen TNI Dr. Yoedhi Swastanto, M.B.A., sedang berdiskusi dengan Mahaiswa Unhan usai kuliah umum di Gedung Auditorium Kampus Unhan, Kawasan IPSC SentuI, Bogor, Jawa Barat, (30/5/2018). Photo: TOPIK/Adang
Staf AhIi Menkominfo Bidang Teknologi Ir Herry Abdul AzIs M.Eng dan Rektor Unhan Letjen TNI Dr. Yoedhi Swastanto, M.B.A., sedang berdiskusi dengan Mahaiswa Unhan usai kuliah umum di Gedung Auditorium Kampus Unhan, Kawasan IPSC SentuI, Bogor, Jawa Barat, (30/5/2018). Photo: TOPIK/Adang

Perkembangan pengguna internet yang kian marak, mengundang terjadinya tindakan kejahatan atau kriminalitas di dunia maya atau dunia siber (cyber crime). Dari data hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) Tahun 2017, didapat informasi bahwa responden sadar akan data dapat diambiI (65,98%) dan sadar dengan penipuan di internet (83,98%).

Hal itu diutarakan Staf AhIi Menkominfo Bidang Teknologi Ir Herry Abdul AzIs M.Eng yang mewakili Menkominfo Rudiantara S.Stat MBA ketika memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) di Auditorium Kampus Unhan, Kawasan IPSC SentuI-Bogor (30/5/2018).

Lebih jauh Herry Abdul AzIs memberikan gambaran tentang kondisi situasi dunia maya di Indonesia dari hasil survei APJII tahun 2017. Dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 262 Juta jiwa, untuk pengguna internet mencapai 143,26 juta jiwa, atau 54,68 % dari seluruh penduduk di Indonesia. Sementara dari komposisi pengguna berdasarkan usia, rentang usia 19-34 tahun menjadi kontributor utama dengan persentase 49,52%, 35-54 tahun (29,55%), 13-18 tahun (16,68%), dan Iebih dari 54 tahun (4,24%).

DiIihat dari jenis kelamin, Herry menyebutkan jumlah  Iaki-Iaki (51,43%) mendominasi perempuan (48,57%)., dengan menggunakan media smartphone yang mencapai 44,16%.

“Ditinjau dari peta ancaman cyber di Indonesia, ancaman kian meningkat,” kata Herry.

Ia menyampaikan, dari catatan IDSIRTII pada 2014, ada 48,8 juta serangan cyber di Indonesia. Serangan tersebut kebanyakan diakibatkan oleh adanya aktivitas “malware” sebanyak 12.007.808 insiden. Serangan akibat adanya ceIah keamanan sebanyak 24.168 kasus, kebocoran rekam jejak atau “record Ieakage” 5.970 kasus.

Ada juga serangan meIaIui “password harvesting” atau “phising” sebanyak 1.730 kasus dan serangan akibat kebocoran domain sebanyak 215 kasus. Dari angka tersebut, menurut ID-SIRTII, Iaman pemerintah atau beralamat go.id paling banyak diserang peretas. Disampaikannya lebih lanjut, berdasarkan data dari 1 Januari sampai dengan 18 September 2017, total aduan dari masyarakat dan intansi terkait konten negatif mencapai 42.821 aduan. Dimana posisi pertama ditempati aduan mengenai SARA/kebencian (13.829), kemudian disusul aduan pornograti (13.120), dan berita bohong (hoax) sebanyak 6.973 aduan.

“Sedangkan untuk total pembIokiran situs hingga 18 September sudah mencapai 782.316 situs,” tutur dia.

Herry menekankan pentingnya kerja sama peningkatan kesadaran publik daIam haI kesadaran keamanan siber yang mencakup dua eIemen , yaitu elemen internal (masyarakat) dalam berinternet hendaknya menggunakan original software, mem-backup data dan menggunakan antivirus dalam perangkatnya.

Sementara elemen eksternal yang mancakup lembaga pemerintah, media, CERT/CSIRT, industri atau operator, komunitas atau asosiasi publik serta para profesional agar senantiasa menjalin kerja sama dalam peningkatan kesadaran pubiik.

“Terutama dalam hal kesadaran keamanan siber, serta untuk Iebih mensosialisasikan bagaimana penggunaan media sosial yang baik atau internet positif atau sehat” pungkas Herry.

 

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *