Letda Arm Sugiharto, Dalang Ki Mantep Yonarmed 3/105 Tarik Hibur Masyarakat Kota Magelang

0
Letda Arm Sugiharto, prajurit TNI AD dari Yonarmed 3/105 Tarik yang dipanggil Ki Mantep.

Magelang – Letda Arm Sugiharto  menunjukkan kepiawaiannya sebagai dalang untuk memainkan lakon wayang kulit.

Di momen HUT ke 1.113 Kota Magelang, ia tampil di kawasan situs bersejarah Kota Magelang, Mantyasih, sejak Rabu (10/4) malam hingga Kamis (11/4) pagi, untuk menghibur masyarakat dengan mengangkat kisah Setyaki Krida.

“Letda Arm Sugiharto yang acap kita panggil Ki Mantep mengangkat kisah yang menunjukkan bahwa prajurit TNI AD peduli terhadap warisan budaya bangsa yang harus kita jaga, pelihara dan lestarikan,” kata Komandan Batalyon Armed 3/105 Tarik Letkol Arm Irwansah dalam keterangan tertulisnya di Magelang, Kamis (11/4), dan diterima topikonline.co.id, Jumat (12/4).

Menurutnya, bagi Letda Arm Sugiharto dunia pewayangan bukanlah hal yang baru. Kakeknya adalah seniman dan ayahnya adalah pemain wayang orang.

Oleh sebab itu, bukan jadi perkara sulit buatnya untuk tampil sebagai dalang dan membawakan kisah wayang selama semalaman suntuk.

Di lokasi yang sama, Letda Arm Sugiharto  juga menuturkan bahwa dirinya tak pernah absen menonton wayang sejak kecil meski harus begadang. Dari situ, timbul keinginan di dirinya untuk memelajari wayang.

“Saya belajar ke seorang dalang asal Kecamatan Pakis Kabupaten, Magelang . Setelah beberapa kali latihan, saya dinilai berbakat untuk menjadi dalang dan itu membuat saya makin bersemangat belajar di sela-sela tugas saya sebagai anggota TNI AD,” terangnya.

Dikatakannya lagi, pada pementasan cerita Setyaki Krida, dirinya ingin menyampaikan pesan dan menanamkan nilai-nilai keprajuritan yang dimiliki kusir dari Prabu Kresna itu.

“Tokoh Setyaki jarang dijadikan tokoh utama, namun dengan karakter yang dimilikinya maka diangkat sebagai tokoh utama ceritera ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Sugiharto juga menceritakan tentang perjalanan Setyaki yang di masa mudanya gemar olah keprajuritan dan bertapa hingga membuatnya menjadi sakti.

“Ketika perang Bharatayudha, Setyaki sangat setia menjadi kusir kereta Prabu Kresna ke medan perang membantu para Pandawa. Ia meninggal dunia setelah Perang Bharatayudha dengan kemenangan para Pandawa akibat perang Gada sesama Wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka,” tuturnya.

“Falsafah yang bisa diambil dari tokoh Setyaki adalah seorang penggawa yang jujur, cerdas, bertanggungjawab, kuat hati, tidak mengenal menyerah, pengabdian sangat total, seorang religius, mencintai rakyat dan sangat setia kepada pimpinan,” imbuhnya lagi.

Satu hal menarik yang ditampilkan Sugiharto dalam pementasannya ketika itu,  saat adegan ‘limbukan’ atau adegan setelah adegan pertama (jejer sepisan), dihadirkan adegan intermezo yang menampilkan tokoh punakawan Petruk dan Bagong.

Adegan ini bertujuan untuk mengendurkan urat syaraf para penonton yang mengikuti kisah Setyaki Krida.

“Adegan intermeso untuk mengangkat tema sinergitas antara pemerintah dengan TNI-Polri karena sebentar lagi Pemilu. Kita semua bersinergi untuk menyukseskan perhelatan pesta demokrasi itu,” tutupnya. bem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here