Peras Wanita Korban Video Call Sex, Pria Pengangguran Dicokok Bareskrim Polri

0
Tersangka SF, pria pengangguran berwajah tak ganteng yang jadi pelaku sextortion bersama barang bukti ditangkap aparat Dittipidsiber Bareskrim Polri karena memeras para wanita yang jadi korban pengguna layanan jasa video call sex (VCS).

Jakarta – Status boleh pengangguran. Wajah juga tak masuk kategori ganteng. Tapi, itu bukan halangan buat SF untuk bisa laku keras menggaet para wanita pemakai jasa layanan video call sex (VCS) bikinannya.

SF (25), adalah pelaku sextortion atau pemerasan melalui jasa seks online.

Ia dicokok aparat Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada Rabu (6/2), di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Kasubbag Opinev Penum Biro Penmas Divisi Humas Polri, AKBP Zahwani Pandra Arsyad yang didampingi Kasubdit 1 Dittipiddiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Dani Kustomi menjelaskan, penangkapan SF berawal dari sejumlah laporan korban yang masuk ke Bareskrim Polri pada Desember 2018 lalu.

“Ada sejumlah korban yang membuang rasa malunya untuk berani melapor ke Bareskrim Polri,” kata perwira yang karib disapa Pandra di gedung Bareskrim Polri, Jatibaru, Jakarta Pusat, Jumat (15/2).

“Dari situ laporan langsung ditindaklanjuti Subdit 1 Dittipidsiber dengan penyelidikan dan mengumpulkan bukti,” sambungnya.

Setelah dirasa punya cukup bukti, Pandra melanjutkan, aparat langsung memburu dan menangkap SF sebagai tersangka utama.

Dari hasil pemeriksaan, kemudian diketahui jika SF tak bekerja sendirian.

“Ini ternyata kerja sindikat. Selain SF, masih ada AY dan EVB yang juga terlibat langsung dalam kasus ini,” kata Pandra.

“Keduanya masuk daftar pencarian orang (DPO) dan sedang dikejar petugas,” imbuhnya lagi.

Dipaparkannya, dalam kasus ini SF berperan menebar ‘umpan’ ke calon korban secara acak dengan memakai akun palsu via facebook video call messenger atau Whatsapp video call.

Calon korban yang dibidik adalah akun-akun facebook wanita yang mencantumkan identitas diri lengkap dengan foto diri.

Jika ‘umpan’ yang ditebar termakan oleh calon korban, SF mulai beraksi tebar pesona dan menawarkan korbannya untuk VCS dengan tarif sejumlah uang atau pulsa mengikuti tingkatan pelayanan.

Jika korban terpikat dan terperdaya, “SF akan menampilkan video adegan seksual atau ketelanjangan saat melakukan VCS,” ucap Pandra.

“Ketika korban yang mulai terpancing dan terangsang, korban diarahkan tersangka untuk memperlihatkan aktivitas seksual atau diminta bugil. Dan yanpa disadari korban, aktivitas korban itu direkam tersangka,” Pandra memaparkan.

Selanjutnya, masih terang Pandra, tersangka kemudian menunjukkan niat aslinya dengan memeras korban untuk mengirimkan sejumlah uang.

Jika permintaan itu tak dituruti, tersangka mengancam akan menyebarluaskan rekaman video aktivitas korban ke media sosial.

“Tersangka mengaku pekerjaan ini sudah dilakukan sejak Februari 2018 bersama AY dan EVB,” ujar Pandra.

“Satu korban bisa kena peras hingga Rp30 jutaan dan mereka mengaku sudah ada seratusan wanita yang jadi korban,” ia melanjutkan.

Kasubbag Opinev Penum Biro Penmas Divisi Humas Polri, AKBP Zahwani Pandra Arsyad yang didampingi Kasubdit 1 Dittipiddiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Dani Kustomi saat menjelaskan pengungkapan kasus sindikat sextortion dengan salah satu pelaku yang sudah tertangkap.

Kasubbag Opinev Penum Biro Penmas Divisi Humas Polri, AKBP Zahwani Pandra Arsyad yang didampingi Kasubdit 1 Dittipiddiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Dani Kustomi saat menjelaskan pengungkapan kasus sindikat sextortion dengan salah satu pelaku yang sudah tertangkap.

Kasubdit 1 Dittipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Dani Kustomi menambahkan, selain EF, tersangka AY yang kini jadi DPO juga berperan menawarkan layanan jasa VCS.

Selain itu, AY juga bertugas membuat akun palsu dan melakukan pemerasan terhadap korban yang aktivitas seksual dan ketelanjangan dirinya berhasil direkam.

Sementara tersangka EVB yang juga DPO berperan menyiapkan rekening bank untuk digunakan SF dan AY menerima dana transfer dari para korban.

“Menurut pengakuan SF yang sudah kita tahan, perbuatan melawan hukum ini ia lakukan bersama AY dan EVB karena motif ekonomi,” kata Dani.

“Uang hasil kejahatan kasus ini dibelikan barang-barang bermerek seperti jam tangan Iwatch dan ponsel Iphone,” tambahnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasal berlapis dari tiga undang-undang sudah disiapkan penyidik untuk menjerat SF dan dua rekannya yang belum tertangkap.

Ancaman maksimal yang dihadapi adalah 20 tahun penjara.

BACA JUGA:

Lebih lanjut AKBP Zahwani Pandra Arsyad kembali menimpali, berkaca dari kasus ini Polri mengimbau kepada masyarakat, khususnya para netizen, untuk lebih berhati-hati agar terhindar dari kejahatan sextortion.

Kepada masyarakat juga diingatkan agar menolak dan tak menanggapi video call dari akun media sosial yang tak dikenal atau yang menampilkan profil atau muatan pornografi.

Kemudian juga diimbau agar lebih berhati-hati dan selektif memilih teman di media sosial.

“Perlu diingat juga kepada masyarakat agar tidak mengunggah konten pribadi berupa foto, data, dan identitas pribadi secara lengkap dalam akun media sosial,” Pandra berpesan.

“Jika sudah ada yang jadi korban pemerasan seksual online, kita juga minta agar tak menuruti kemauan pelaku dan segera melapor ke kepolisian,” tandas pria yang pernah dinobatkan sebagai Abang Jakarta tahun 1991. bem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here